2.3 Arsitektur Neo-Vernacular Karo Sebagai Representasi
Budaya Lokal
Ramadhani Gintng S
Abstract:
Perkembangan perkotaan yang kian melejit
di zaman modern dewasa ini, membuat banyaknya bangunan kota menjadi semakin
kehilangan identitas, ini di karenakan oleh keegoisan dari setiap
bangunan-bangunan pencakar langit yang di bangun di kawasan perkotaan yang
tidak memperhatikan lingkungan di sekitar bangunan dan juga tidak adanya
cerminan nilai-nilai budaya pada bangunan di setiap daerah yang di jadikan
tempat bangunan tersebut berdiri. Perlu diketahui setiap kawasan/kota memiliki
karakter, ciri khas, serta jati diri tersendiri yang terefleksi dari
nilai-nilai budaya, tradisi. Seperti yang kita ketahui Kota Medan yang
merupakan salah satu kota terbesar di Indonesia, tepatnya berada di Provinsi
Sumatera Utara, memiliki banyak kekayaan budaya dan berbagai aneka ragam suku.
Budaya karo yang mulai tidak dikenal lagi akan memungkinkan tenggelamnya satu
budaya yang melengkapi sejarah Kota Medan. Kota Medan sendiri diberi nama oleh
seorang tokoh Suku Batak Karo yaitu Guru Patimpus Sembiring Pelawi, pria yang
berasal dari dataran tinggi Karo. Pengetahuan sejarah inilah yang sangat jarang
diketahui oleh masyarakat umum Kota Medan, begitu juga dengan para wisatawan
Mancanegara dan wisatawan Domestik yang datang berwisata ke Medan. Dengan
menghadirkan sebuah bangunan Mixed-Use dengan fungsi Hotel-Kantor yang bertema
Neo-Vernacular diharapkan dapat memberikan nilai edukasi dan kesadaran
masyarakat mengenai sejarah dan budaya Kota Medan yang perlu dilestarikan.
Bangunan ini nantinya juga diharapkan dapat merevitalisasikan dua kawasan
sekaligus yaitu kawasan Jl. Guru Patimpus dan kawasan muka Sungai Deli, dimana
sungai Deli berkaitan erat dengan sejarah Kota Medan karena posisinya yang
berada dekat dengan pertemuan Sungai Babura dan Sungai Deli yaitu awal mula
Guru Patimpus membuka lahan untuk perkampungan yang di beri nama Medan Putri.
Abstract:
The skyrocketing of urban developments
nowadays has made a lot of city buildings lose their true identity, caused by
the ego of each urban skyscraper which has paid no interest to its environment
and showed no reflection of cultural values of where the building is located.
It is need to be known that each city/area has its very own characters,
features and identity which are reflected from the values of existing culture
and traditions. Medan city as we know it is one of the biggest cities in
Indonesia, which exactly is located in the North Sumatra province, has a wide
range of cultures and tribes. The Karo culture is slowly becoming unpopular,
and this might make one of the cultures which shaped Medan’s history extinct.
The name Medan itself was given by a Batak Karo figure, Guru Patimpus Sembiring
Pelawi, who came from the Karo heights. This historical knowledge is rarely
known, either by Medan domestics or international tourists. By presenting a
mixed-use building with hotel-office functions with Neo-Vernacular theme, it is
expected for this building to give educational values and people’s
consciousness of the history and culture of Medan city, which need to be
preserved. This building is also expected to revitalize two areas which are Jl.
Guru Patimpus area and the Deli riverfront, which has a historical relationship
with Medan city for its location that is near the interchange of Babura river
and Deli river, where Guru Patimpus first set a village, which he named Medan
Putri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar